Senin - Sabtu 08.00 - 16.30 || Minggu 09.00 - 16.00 || HP/Wa 0815-1483-2773

Mengapa Mamah Muda Perlu Kebal Omongan Orang Lain?

Saturday, April 15th 2017.

Perempuan itu udah dari sononya diciptakan peka syekalee perasaannya. Dan saat menjadi mamah muda, entah mengapa, saya berpikir sensitivitasnya jadi berlipat ganda. Dalam hal ini sensitivitas terhadap sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya. Dikit-dikit gampang nangis, dicolek dikit ngambek, diomong dikit mutung, dan sebangsanya. Itu biasanya terjadi sejak proses hamil sampai awal-awal menyusui. Biasanya lho, ya! Tidak semua.

mengapa-mamah-muda-perlu-kebal-omongan-orang-lain

Dan omongan orang itu seperti tidak ada habisnya. Tidak semua omongan bernada positif. Pun juga tidak semua bernada negatif. Dalam tulisan ini saya mencoba menggarisbawahi yang bernada intimidatif bagi bumil.

Pas hamil, komentar orang mungkin biasa aja. Tapi bagi bumil ini bisa sangat menyakitkan baginya.

“Kamu hamil berapa bulan, sih. Kok nggak kelihatan!” Ini biasanya bagi bumil dengan bayi mungil. Atau diet ibunya berhasil. Berhasil karena mual sepanjang hari maksudnya ?

“Busyet.. gede banget perutmu. Susah, lho, ntar lahirannya.” Ini macam saya, bayi besar di dalam karena mungkin emaknya doyan makan.

“Pucet amat kamu, Jeng. Kurang gizi, ya?” Ini sekadar komen sembarangan, bisa jadi dia belum pernah hamil.

Ada juga sih, komentar yang nggak mendukung tapi justru menyalahkan, “Apah! Kamu hamil lagi?! Kamu nggak kasihan sama anakmu yang masih kecil-kecil, hah?!”

Pernah dikomentari begitu? Atau malah Anda yang mengomentari begitu? Kalau iya, mari kita bertobat bersama-sama. Yang lagi hamil bertobat dari menyibukkan pikiran dengan komentar-komentar yang sekiranya melukai. Yang lagi komentar bertobat dari melukai hati ibu hamil.

Setelah melahirkan dan mulai sibuk dengan aktivitas menyusui siap-siap kuatkan mental lagi.

“Kamu lahirannya nggak normal, ya?” Udah jangan digubris. Nggak perlu ditanggapi. Jawab aja pendek-pendek sampai dia bosan nanya.

“Kok ASImu nggak banyak, sih? Anakmu kelaperan, lho!” Keep positive thinking. Sugesti ibu sangat berpengaruh ke ASI. So, bawa happy aja.

“Bayimu kurus banget, ya?” Etdah, namanya juga baru lahir masa’ langsung gemuk.

Nanti kira-kira berbilang lima atau enam bulan, pertanyaan sederhana kadang bisa bikin nangis.

“Bayimu naik berapa?” Sesederhana ini bisa bikin guling-guling seharian di kamar. Eh, nggak bisa ding. Kan ada bayi yang harus diurusi. Ada suami yang harus dilayani.

“BBmu udah turun berapa?” Ini rada sadis bagi emak-emak yang susah kurus. Plis, deh. Ngobrol yang lain aja, gih.

“Kamu jadi kurus begini, ya, ngurus bayi.” Ini paling gampang dijawab, “Ya, kan jadi terlihat bahwa saya benar-benar berjuang ngurus bayi dan suami.” Eaaaa..

“Anakmu ini cewek, toh? Lha kok ngga ditindik?” Hahaha.. ini sering ditanyakan pada sayah. Rada susah menjelaskannya. Tapi never mind lah. Sekali-kali perlu dijadikan bahan obrolan. Biar tidak terasa sunyi tanpa ada topik menarik.

Seperti pagi ini saat saya membelikan bubur Wahida. Sehabis mengambil bubur saya bermaksud beli pecel di seberang jalan. Sambil menunggu pecel dibungkus, saya ambil pisang yang tadi saya beli di pasar. Sesuap untuk Wahida, sesuap untuk saya.

Ada ibu-ibu di samping nyelutuk, “Itu pisang apa, Mbak? Kuning banget. Hati-hati, lho, biasanya itu dikasih obat. Nggak mateng beneran.”

Glek. Itu mungkin si ibu berniat baik. Mungkin informasinya benar. Mungkin memang aku yang salah tidak menanyakan ke si pedagang apakah ini pisang asli atau imitasi wkwkwk.. Tapi celutukan ini kok terasa menusuk sekali. Alamak.. baper!

Saya dengan muka dibuat biasa aja cuma berguman, “Oiya, Bu?” Sambil tetap menyuapkan pisang ke mulut Wahida.

“Iya, Mbak. Saya pernah beli kayak gitu. Sampai dua hari kulitnya masih bagus. Tapi pas saya buka kulitnya, dalamnya sudah busuk.”

“Ooo.. berarti perlu saya coba tunggu dua hari ya, Bu,” jawab saya santai sambil tetap menyuapi Wahida.

Sebenarnya saya bingung, apakah harus bereaksi kaget lalu membuang pisang itu? Atau sungkan dan berterima kasih lalu menyimpan pisang itu? Atau marah-marah tidak terima dan melempar pisang itu ke muka.. *ahsudahlah.

Toh, akhirnya saya memilih biasa aja. Padahal setengah deg-degan, setelah sebal. Pas di perjalanan pulang, baru saya sadar kesalahan saya. Jangan-jangan si ibu tadi pengen pisang saya, kenapa tidak saya tawari untuk mengambilnya? Duh, dalam hal kepekaan seperti ini pentium saya rendah sekali. Di situ saya merasa sedih, dan menyesal. Tapi ya sudah, momentum lewat.

Setidaknya saya tidak menyesal sudah pasang kuping tebal.

—– tamat——

Itu cerita-cerita perihal omongan orang, Bu.

Pasti ibu-ibu lebih berpengalaman, ya kan ya. Perihal kuping tebal itu mengajari saya untuk kebal. Bahwa omongan-omongan tidak jarang sangat tidak penting. Bahkan membahayakan jiwa raga kita. Bahkan jiwa raga anak dan suami kita.

Bagaimana tidak? Kalau sampai sakit hati kita membuat kita sakit fisik, siapa yang rugi coba? Kita sendiri, jelas. Anak tidak terurus, jelas. Suami malah kebagian tugas khusus; merawat istri dan anak sementara ia harus membanting tulang demi keluarga. Fyuhh..

Dari pengalaman saya hingga bayi saya mau menginjak usia 9 bulan, urusan hati ini benar-benar perlu ditempa ribuan kali. Anak nangis pas mau tidur malam misalnya, ini sudah menguras tenaga. Ternyata, dari pengamatan saya sebagian besar susah tidur pada anak itu bersumber dari psikologi ibunya saat menidurkan.

Membersamai anak sepenuh hati itu tidak mudah, ya. Namanya juga banyak kerjaan, banyak pikiran. Kadang hal seperti itu menyebabkan kurang totalitas menemani anak.

Di saat-saat seperti itu saya harus banyak mengingatkan diri saya sendiri bahwa, masa indah bersama anak-anak  ini akan cepat berlalu. Suatu ketika saya pasti rindu. Menatap lebar tawanya. Mengharap rangkulan kedua tangan mungilnya di leher saat minta digendong. Mengusap pulas tidurnya. Ah,, apa iya masa seistimewa ini akan kujalani setengah hati?

Yuk, Bu. Saling mengingatkan. Bismillah.

Sumber http://tuturma.ma/2016/12/30/mengapa-mamah-muda-perlu-kebal-omongan-orang-lain/

Perlengkapan Bayi | Kursi Bonceng Anak | Kolam Renang Bayi | Baby Beanbag

Artikel Terkait:

Produk terbaru

Rp 40.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangDodo Fruit Feeder/Empeng Buah
Harga Rp 40.000
Lihat Detail
Rp 135.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Big Size Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 135.000
Lihat Detail
Rp 60.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Size Small Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 60.000
Lihat Detail
Rp 80.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Medium Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 80.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPelampung Leher / Neckring Baby Collar Motif Princess
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Pooh
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Princess
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Frozen
Harga Rp 50.000
Lihat Detail

Informasi

Mainan adalah barang yang tanpa ada garansi dari pabrik, kami selalu mengecek kelengkapan dan test semua fungsi sebelum barang dikirim.
Semua mainan tiupan, pelampung dan kolam,barang tidak dites dan tidak ada garansi kebocoran. kami sarankan utk beli lem utk mengatasi kebocoran.

Rekening Bank

0885556634 Beti Bistiorini
1410011479581 Beti Bistiorini
0219739261 Beti Bistiorini
058301010645509 Beti Bistiorini