Senin - Sabtu 08.00 - 16.30 || Minggu 09.00 - 16.00 || HP/Wa 0815-1483-2773

Tiga Hal yang Bikin Baper Maksimal Setelah Punya Anak

Saturday, June 17th 2017.

Menjadi ibu itu bahagia? Yes, dong! Kalaupun ada yang bikin tidak bahagia, insya Allah tetap bisa dibahagia-bahagiain. Namun, siapa sangka di balik bahagia itu ada juga kebaperan-kebaperan yang kadang membuat kepengen kembali ke masa lalu, atau rasa sendu yang mengharu-biru.

bapernya-ibu-setelah-punya-anak

Pertama, baper mengingat jasa orang tua. Ini kerasa sekali di masa awal setelah melahirkan. Baru keluar dari ruang bersalin aja yang terpikir adalah, “Betapa ajaibnya aku bisa keluar hidup-hidup!” Tidak bisa diceritakan detailnya, kalau mau tahu rasanya rasakan sendiri deh pokoknya. Nah, fase ini langsung keingat Ibu, yang melahirkan 5 anaknya termasuk aku. Omaigat! Kok bisa sampai lima, to, Bu! Aku aja yang baru sekali udah waoooww..

Itu baru selepas melahirkan. Berikutnya ketika mulai rempong mengurusi bayi. Malam bukan lagi sepi dan pulas tidur. Tapi siap sedia bangun oleh tangisan si kecil. Mata panda adalah hiasan wajib para orang tua di masa awal mengurus bayinya. Siang pun harus berjibaku dengan bayi, bayi, dan bayi. Jangan tanyakan kapan istirahat, kecuali pas bayi tidur ikut tidur. Selain itu akan sibuk neneni (yang masih amatiran tentu menguras tenaga sekali), ganti popok berkali-kali, membersihkan BAB bayi, tumpahan susu, menimang, menggendong, dan tentu saja agenda domestik. Wow, Ibu! Dulu engkau pasti serempong ini mengurusku.

Masa ini sebagai ibu muda terasa banget pantulan jiwanya. Betapa dulu orang tua kita telah sedemikian repot merawat kita. Setelah merasakan sendiri akhirnya baru mengerti. Dan menyesal sangat dalam. Kalau-kalau selama ini banyak sikap kita sebagai anak yang kurang berkenan, bahkan mungkin sangat menyakitkan. Lebih-lebih belum sempat membalas kebaikan. Mashaa Allah. Kebaikan orang tua sungguh tidak terbalas. Tak terbayar. Mengingat ini sungguh membuat seorang ibu muda baper maksimal.

Kebaperan kedua terjadi ketika menyadari betapa masih minim dan kurangnya kesiapan diri dalam menyambut bayi. Kesiapan ilmu, kesiapan raga, kesiapan mental, kesiapan dana, kesiapan kemapanan bla.. bla.. bla..

Ini yang sering kali dialami ibu muda dan menyebabkan baby blues tingkat dewa. Seingat saya, pas mau melahirkan saya lebih banyak fokus pada proses melahirkan saja. Ya, perihal mau lahiran dimana, sama dokter siapa, pake metode apa. Sibuk senam hamil, renang, jalan kaki, dan sebagainya ‘hanya’ demi bisa melahirkan lancar. Saya benar-benar mengira setelah melahirkan semua bisa ngalir-ngalir saja, ya.. merawat bayi seperti orang lain merawat lah ya.

Tapi saya lupa dan baru sadar saat menghadapi ketidaknyamanan-ketidaknyaman. Akhirnya setelah coba dipikir-pikir, rupanya saya masih kurang gigih dalam menyiapkan mental dan jiwa untuk melakoni peran baru sebagai ibu.

Untuk urusan fisik yang berbau keterampilan mengurus bayi insya Allah bisa lebih cepat dipelajari. Ini semacam naluri. Ketika jadi ibu, tuntutan menjadi cekatan dan terampil itu seolah otomatis terinstall dalam perilaku. Tapi untuk urusan batin semacam mengelola kekhawatiran, ketakutan, dan rasa sedih itu sungguh menguras energi.

Tiba-tiba saya merasa tidak siap, bahkan sekedar mendengar tangisan bayi yang melengking kapan saja. Tangisan yang tidak selalu bisa dihentikan dengan gendongan bahkan tidak juga diam meski nenen telah disodorkan. Hal ini sampai membuat stress. Kalau bayi mulai menangis keras ibunya malah ikutan nangis. Ampun dah.

Masa ini saya berterima kasih sekali memiliki suami yang mampu mengambil peran; ikut berusaha menenangkan bayi. Sampai-sampai saya merasa kalah telak, karena suami lebih terampil. Tiap nangis bayi saya sodorkan ke dia aja! Saat itu saya semacam dipaksa mengerti, ada bahasa jiwa yang harus diasah saat menghadapi bayi. Bahkan ketika itu adalah bayimu sendiri. Bahasa kelembutan yang tercermin dalam kenyamanan gendongan. Bahasa kehangatan yang tidak melulu urusan kenyang atau tidur nyenyak. Bahasa kedekatan dalam belaian, ungkapan sayang, dan doa-doa yang melimpah.

Kesiapan mental ini tidak hanya saat menghadapi bayi, terlebih juga saat menghadapi orang-orang di sekeliling bayi. Ya, orang tua sendiri, tetangga, teman-teman, dan seluruh warga lingkungan. Ketika tinggal bersama orang tua atau keluarga besar, tak jarang mereka turut serta merawat bayi kita. Tak jarang ada perbedaan pandangan, prinsip, dan metode. Bahkan sekedar urusan membedong bayi. Hal seperti ini cukup menguras perasaan jika keseringan bersitegang.

Tahu tidak, sih. Ibu muda itu perasa akut. Saat menjenguk bayi lalu saudara dan teman-temannya menasehati ini itu demi kebaikan aja bisa justru melukai perasaan si ibu. Atau komentar-komentar tidak penting yang tak jarang menambah stress dan frustasi.

“Owh.. lahiran sesar.. gimana ceritanya?”

“Ya ampun divakum? Ati-ati lho anaknya nanti bisa kurang cerdas.”

Ayolahh.. masa ini saatnya memberi dukungan positif! Bukan sebaliknya. Benar-benar menjengkelkan. Si ibu muda yang proses lahirannya tidak seideal yang ia bayangkan saja, seringkali terjebak pada rasa bersalah berlebihan. Apalagi kalau ditambah dengan komentar orang-orang di sekelilingnya yang semakin menyudutkan.

Suer deh. Mending sebelum melahirkan kuatkan ini dulu. Tidak terlalu ambil pusing dengan ketidakidealan yang dialami selama proses melahirkan. Dan biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu. Jangan biarkan kata-kata orang lain mengusikmu.

Hal ketiga yang bikin baper adalah ketidakmampuan memanajemen. Sebenarnya semua tetap bisa lancar-lancar saja, kok. Apalagi dengan jiwa yang gembira. Tapi sesuatu yang tidak tertata bisa terakumulasi serupa bara dalam sekam. Meledak sewaktu-waktu.

Nanti tiba-tiba merasa bersalah sama suami karena jadi berkurang perhatiannya. Atau malah sebaliknya, menuntut diperhatikan lebih banyak :p Ibu yang kembali bekerja setelah melahirkan tantangannya mungkin lebih besar. Proses pendelegasian kepada siapa untuk momong anak dan sebagainya perlu dipertimbangkan lebih dalam. Lalu urusan bertetangga mungkin agak tersendat. Atau biasanya yang sering berkunjung ke orang tua dan saudara jadi semakin jarang. Dan lain-lain.

Well, Moms. Seiring berjalannya waktu kebaperan-kebaperan itupun terkikis. Tidak habis, tapi mungkin bisa lebih proporsional. Saat jiwa kita tertempa setiap hari kita akan teruji untuk menjadi ibu yang kuat dan tangguh.Have a wonderful day, Moms.

Sumber http://tuturma.ma/2016/12/08/tiga-hal-yang-bikin-baper-maksimal-setelah-punya-anak/

Perlengkapan Bayi | Kursi Bonceng Anak | Kolam Renang Bayi | Baby Beanbag

Artikel Terkait:

Produk terbaru

Rp 40.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangDodo Fruit Feeder/Empeng Buah
Harga Rp 40.000
Lihat Detail
Rp 135.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Big Size Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 135.000
Lihat Detail
Rp 60.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Size Small Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 60.000
Lihat Detail
Rp 80.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTikar Lipat Piknik Medium Microsatin Plastik Bukan Lampit Rotan Bambu Sushi
Harga Rp 80.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPelampung Leher / Neckring Baby Collar Motif Princess
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Pooh
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Princess
Harga Rp 50.000
Lihat Detail
Rp 50.000
Order Sekarang » SMS : 0815-1483-2773
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNeckring Baby Collar Motif Frozen
Harga Rp 50.000
Lihat Detail

Informasi

Mainan adalah barang yang tanpa ada garansi dari pabrik, kami selalu mengecek kelengkapan dan test semua fungsi sebelum barang dikirim.
Semua mainan tiupan, pelampung dan kolam,barang tidak dites dan tidak ada garansi kebocoran. kami sarankan utk beli lem utk mengatasi kebocoran.

Rekening Bank

0885556634 Beti Bistiorini
1410011479581 Beti Bistiorini
0219739261 Beti Bistiorini
058301010645509 Beti Bistiorini