Senin - Sabtu 08.00 - 16.30 || Minggu 09.00 - 16.00 || HP/Wa 0813-3450-6424

Usia Masuk SD dan Pengaruhnya Bagi Anak. Perlu Dibaca semua Ibu

Wednesday, April 12th 2017.

Orang tua mungkin bangga kalau anaknya bisa masuk SD dalam usia yang lebih muda dari teman-temannya. Buat mereka, itu menunjukkan kalau anak mereka lebih pintar dari anak sebayanya. Tapi benarkah demikian?

Anak-SD

Saya adalah salah satu contoh kasus sekolah kemudaan. Cuma gara-gara saya bongsor, saya dimasukkan SD ketika umur saya masih 5 tahun. Guru SD tersebut belum membolehkan, tapi Ibu saya memaksa. Alhasil, jadilah saya selalu lebih muda dari teman sebaya saya. Karena di jaman saya kecil masih kental dengan sopan santun, teman sekelas saya di SD kebanyakan memanggil saya dengan ‘dik’ dan saya memanggil mereka dengan ‘mbak’.

Tidak ada masalah berarti dalam pelajaran yang saya alami. Sampai lulus SD, andai waktu itu ranking sudah dicetak dengan jelas, saya pasti ranking satu atau dua. Di SMP juga tidak ada masalah. Saya termasuk anak pintar. Begitu juga di SMA, saya masih termasuk lima besar.

Tapi di SMA ini masalah mulai terasa. Pada mapel ilmu pasti (Fisika, Kimia, Matematika), saya keteteran. Tidak cuma tidak mampu mendapat nilai baik, tapi juga seolah saya ‘stuck’. Dijelaskan seperti apapun tidak bisa paham. Sampai teman saya saja kesal. Saya mulai tidak fokus. Selain itu ada masalah emosional yang tidak mampu saya jelaskan, apalagi saya atasi. Ada kegelisahan yang aneh. Selalu merasa kacau balau. Tahu-tahu senang, tahu-tahu sedih tanpa alasan.

Ketika kuliah, adik saya bercerita tentang temannya yang tahu-tahu menikah. Anak itu cantik, pintar dan karena supel teman-temannya banyak. Anak itu termasuk mahasiswi yang populer di jurusannya. Sayangnya seringkali sikapnya tidak terkendali. Kadang-kadang meledak-ledak, di saat lain dia begitu baik. Begitu banyak pemberontakan yang dia lakukan. Pada suatu ketika dia hamil dan terpaksa menikah.

Komentar dia menohok sekali. “Kalo sekolahnya kemudaan kan kaya gitu itu jadinya.”

Demi mendengar kalimat itu seolah semua pertanyaan saya terjawab. Itulah kenapa saya selalu tidak maksimal. Jauh dibandingkan adik saya yang sekolah ketuaan; dia lebih tua beberapa bulan dari teman-temannya karena dia lahir di akhir tahun. Kebetulan karena faktor situasi keluarga yang baru saja pindah ke kompleks baru, dia masuk TK agak telat. Kalo saya masuk SD 5 tahun, dia masuk SD sekitar 6,6 tahun. Dia lebih siap masuk sekolah.

Sepanjang sekolah dia anak pintar. Bahkan yang saya heran, Fisika yang jadi mapel yang begitu susah saya pahami, dia jagoan. Di bidang apa saja dia mumpuni. Saya tidak iri, tapi heran. Kenapa bisa begitu. Sepertinya komentar dia yang asal itu menjadi jawaban tuntas buat saya.

Ketika saya punya anak, Dila, terpaksa saya masukkan TK karena ngeyel ingin masuk TK pada umur 3 tahun. Dia pandai dan bisa mengikuti pelajaran dengan baik, juga mampu bersosialisasi. Karena bakal kemudaan kalau saya ikuti dua tahun di TK lalu masuk SD, setelah setahun di TK itu, dia saya pindahkan ke TK lain mengulang dari TK A lagi. Total dia 3 tahun di TK. Ketika masuk SD usianya 6,4 tahun. Sudah memenuhi persyaratan masuk SD negeri. SD, SMP dan SMA dia lalui dengan baik. Meski bukan terbaik di kelas, tapi dia cukup enjoy dan stabil secara emosi.

Di TK pertama tadi, ada temannya yang usianya juga 3 tahun. Setelah sekolah di TK itu 2 tahun, anak itu disekolahkan ke SD. Keluarganya bangga karena anak itu bisa menguasai pelajaran dengan baik di SD meski kemudaan.

Sayang ketika masuk SMP prestasinya menurun. SMP dan SMA dia masuk sekolah swasta karena nilainya kurang baik. Baru kuliah beberapa bulan dia dinikahkan karena hamil. Memang ada masalah keluarga yang cukup berat yang dia alami, sehingga saya pikir hal terakhir ini tidak bisa menjadi akibat umum yang terjadi pada anak yang sekolah kemudaan. Namun sekolah kemudaan memang memberikan masalah dalam kontrol emosi. Si bungsu masuk SD di usia yang lebih tua dari kakaknya karena dia lahir bulan Januari.

Anak teman saya, juga disekolahkan kemudaan. Awalnya anak itu bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi nyatanya kemudian bermasalah hingga tidak bisa naik kelas. Masalah-masalah pada anak yang saya ketahui, sering kali memang berhubungan dengan perihal umur berapa dia masuk SD. Nyatanya memang anak-anak yang sekolah kemudaan ini cenderung mengalami masalah di kemudian hari.

Orang tua boleh bangga kalau putra putrinya bisa masuk SD dan nyatanya bisa mengikut pelajaran dengan baik. Tapi sebenarnya kesiapan anak untuk sekolah bukan hanya masalah ‘bisa tidaknya mengikuti materi di sekolah’. Kesiapan emosi anak-anak harus juga ditata dengan sedemikian rupa. Bagaimanapun semakin matang usianya, semakin dia siap untuk menghadapi pergaulan dengan teman-temannya.

Kalau jaman saya dulu sekolah, kemudaan masuk SD masih tidak menjadi masalah besar, buktinya saya bisa ‘selamat sampai tujuan’. Lulus SMA, masuk Universitas Negeri lalu bekerja. Tidak ada pergolakan yang berarti. Tapi perlu diingat bahwa kurikulum waktu itu masih sangat manusiawi.

Kalau sekarang saya mendampingi si bungsu belajar, saya bisa terkaget-kaget. Matematika yang saya pelajari di SMP sudah dia kenal di kelas 3 SD. Beban kurikulum saat ini begitu berat. Untuk anak yang belum benar-benar siap pasti akan sangat keteter. Memang ketinggalan ini belum tampak di kelas satu atau dua SD karena di kelas itu materi masih mudah. Tapi setelahnya, sudah sangat berat. Maka tak heran kalau kesulitan belajar biasanya akan terjadi di kelas-kelas setelahnya.

Kondisi paling parah akan terjadi di SMA nanti. Sebuah masalah besar menunggu di kemudian hari dan hal ini jarang disadari orang tua. Tidak banyak dari mereka yang menyadari bahwa semua itu karena mereka menyekolahkan anaknya di usia yang terlalu muda.

Lebih banyak yang menyalahkan si anak itu sendiri dengan kata ‘malas’. Padahal anak itu sendiri justru bingung kenapa dia tiba-tiba ‘blank’.

Jadi saya kira, apalah salahnya ketuaan setahun dua masuk SD kalau hasil yang didapatkan di kemudian hari akan lebih baik, dari pada berbangga hati anak bisa ‘nabung umur’ tapi efeknya sangat mengecewakan dan sangat mempengaruhi masa depan anak.

Maka kalau ada anak di sekitar Anda yang mengalami masalah dalam belajar, coba ditanyakan lebih dulu, umur berapa dia dulu masuk SD. Lebih bijaksana lagi kalau Anda menyekolahkan anak Anda ketika dia benar-benar siap, mengikuti persyaratan SD negeri, pada usia 6 tahun.

Perlengkapan Bayi | Kursi Bonceng Anak | Kolam Renang Bayi | Baby Beanbag

Sumber http://tuturma.ma/2016/10/21/usia-masuk-sd-dan-pengaruhnya-bagi-anak-perlu-dibaca-semua-ibu/

Artikel Terkait:

Produk terbaru

Rp 305.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangKolam Renang Bestway Kotak 54005
Harga Rp 305.000
Lihat Detail
Rp 95.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBan/Pelampung Renang Anak Angsa Swan Pink
Harga Rp 95.000
Lihat Detail
Rp 95.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBan/Pelampung Renang Anak Angsa Swan Putih
Harga Rp 95.000
Lihat Detail
Rp 28.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPelampung Tangan Bestway Princess
Harga Rp 28.000
Lihat Detail
Rp 28.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangPelampung Tangan Bestway Little Fish Nemo
Harga Rp 28.000
Lihat Detail
Rp 350.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Kode54006
Nama BarangKolam Renang Anak Bestway Kotak Biru Sedang 54006
Harga Rp 350.000
Lihat Detail
Rp 410.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangKolam Renang Anak Bestway Kotak Biru Jumbo 3M 54009
Harga Rp 410.000
Lihat Detail
Rp 40.000
Order Sekarang » SMS : 0813-3450-6424
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBantal Bayi / Bantal Tangan Menyusui / Arm Nursing Pillow Motif Farms
Harga Rp 40.000
Lihat Detail

Informasi

Mainan adalah barang yang tanpa ada garansi dari pabrik, kami selalu mengecek kelengkapan dan test semua fungsi sebelum barang dikirim.
Semua mainan tiupan, pelampung dan kolam,barang tidak dites dan tidak ada garansi kebocoran. kami sarankan utk beli lem utk mengatasi kebocoran.

Rekening Bank

0885556634 Beti Bistiorini
1410011479581 Beti Bistiorini
0219739261 Beti Bistiorini
058301010645509 Beti Bistiorini